Walisongo Bersolawat bersama gandrung nabi
Angin malam berhembus lembut saat awan-awan yang semula menggantung di langit Desa Siwalan, Kecamatan Sugihwaras, perlahan bergerak ke arah timur. Sejak usai Maghrib, ribuan pencinta sholawat mulai berdatangan ke Lapangan Desa Siwalan, lokasi digelarnya acara Walisongo Sugihwaras Bersholawat.
Deretan pedagang yang ditata rapi di sisi kanan, kiri, dan depan lapangan mulai melayani pembeli. Sementara itu, para pemuda Karang Taruna sibuk mengatur kendaraan di area parkir yang telah mereka siapkan.
Menjelang pukul 19.30 WIB, lapangan sepak bola itu nyaris penuh. Para hadirin duduk tenang menanti acara dimulai. Duo pembawa acara, Afa Latifah dan Zaimah, membuka malam penuh sholawat ini dengan hangat.
Irama Hadrah dan Hafalan Qur’an Santri
Penampilan pertama dibawakan oleh para santri Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allim dan siswa MTs/MA/SMK Walisongo Sugihwaras, dengan lantunan hadrah ala Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI). Gemuruh suara sholawat dan gerakan khas rodad menggema memenuhi langit Sugihwaras.
Disusul kemudian, tampillah para santri menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka adalah generasi penerus pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH. Munir Sinhadji, sosok ulama kharismatik Sugihwaras.
Acara berlanjut dengan sambutan Ketua Yayasan Al Munir, yang kemudian dilanjutkan dengan penayangan video dokumenter perjalanan 60 tahun Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allim Langgar Kidul Sugihwaras dan 30 tahun MTs/MA/SMK Walisongo.
Kreasi Santri: Nadhoman dan Tari Saman
Setelahnya, panggung berukuran 12×10 meter kembali diramaikan dengan kreasi santri: hafalan nadhoman dari kitab karya Almarhum KH. Taufiq Munir, yang semasa hidupnya mengasuh para santri di pesantren. acara berikutnya adalah tari saman, Sorak-sorai penonton mengiringi tari saman yang ditampilkan oleh siswa-siswi Walisongo. Kekompakan dan irama gerak mereka memikat ribuan pasang mata yang hadir malam itu.
Ketua Panitia, Fatkhul Aziz, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara.
“Alhamdulillah, alam pun mendukung Walisongo Bersholawat. Biasanya hujan, tapi malam ini cerah, dan pengunjungnya pun penuh,” ujar ustadz yang juga dikenal mahir qiro’ah ini.
Gandrung Nabi: Puncak yang Menggetarkan Hati
Pukul 21.00 WIB, grup rebana Gandrung Nabi mulai tampil. Suasana menjadi semakin meriah dengan permainan lighting warna-warni yang bergerak seirama lantunan sholawat. Setengah jam kemudian, sang pimpinan Gus Zaman Assekal tiba di lokasi dan langsung naik ke atas panggung.
Dengan dipimpin langsung oleh Gus Zaman, lantunan sholawat makin menggetarkan hati. Saat seluruh lampu dipadamkan dan flashlight HP para pengunjung dinyalakan, suasana menjadi sangat emosional dan khidmat.
Acara mencapai puncaknya saat mahalul qiyam dilantunkan. Para pecinta sholawat dari barisan depan mulai mendekat ke panggung, dijaga oleh Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Wangi kemenyan Arab yang semerbak membuat malam itu terasa semakin sakral.
Setelah doa penutup oleh K. Mahfud, Ketua Syuriah MWC NU Sugihwaras, acara pun resmi ditutup. Namun ribuan pecinta sholawat belum ingin beranjak. Mereka tetap berdiri dekat panggung, menanti hingga Gus Zaman benar-benar turun.
sumber : https://damarinfo.com/walisongo-bersholawat-gandrung-nabi-2025/
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Siswa Siswi Walisongo Borong piala
Siswa-siswi Walisongo Sugihwaras kembali mengharumkan nama Bojonegoro di tingkat nasional. Kali ini, pelajar MA Walisongo Sugihwaras dan SMK Walisongo Sugihwaras meraih sejumlah medali

